Di suatu pagi yang cerah.
Seorang anak perempuan kecil duduk di depan meja makan.
Satu tangannya memegang sekeping biskuit, sementara tangan lainnya menggenggam gelas berisi susu.
Selang beberapa saat, tampak seorang perempuan muda dengan sorot mata lembut dan senyum mengembang datang menghampiri si anak perempuan kecil.
Perempuan itu kemudian duduk tepat di sebelah si anak perempuan kecil.
“Ayo, sayang, dihabiskan susu dan biskuitnya, “ujar sang perempuan muda yang ternyata adalah ibu si anak perempuan kecil itu.
Dengan sabar dan penuh kasih sayang dia mengelus rambut putri kecilnya.
Dia dengarkan dengan riang celoteh bawel putri kecilnya itu.
Tiba-tiba, sang ibu beranjak dari kursinya.
Rupanya, dia menuju ke pintu depan.
Entah apa yang membuatnya keluar dan melongok ke arah luar rumahnya.
Satu, dua, tiga menit, sang ibu tak jua kembali.
Sementara si anak perempuan kecil masih saja asyik meminum susunya.
Lamat-lamat terdengar suara-suara.
“Nah, itu dia….Desima ikut sarapan juga ya. Tante tadi sempet bikin gorengan sedikit. Ayo duduk di sana, tante siapin susunya dulu ya, supaya kalian bisa minum susu bareng”.
Oh, rupanya sang ibu kembali ke rumah dengan membawa seorang anak perempuan kecil lainnya.
Anak kecil lainnya ini nampak masih mengantuk, matanya masih merah, rambutnya acak-acakan.
Perbedaan mencolok antara si anak perempuan kecil yang baru masuk dengan anak perempuan kecil anak si ibu muda adalah pada pakaian yang mereka kenakan.
Pakaian Desima—si anak perempuan yang baru masuk—terlihat lusuh dan berantakan. Pakaiannya compang-camping, rambutnya lengket seperti tak pernah dikeramas, mukanya juga tampak seperti tak pernah dibasuh air.
Sementara anak kecil yang sedari tadi duduk di meja makan tampak jauh lebih bersih, lebih riang gembira dan lebih wangi.
Tak lama kemudian dua anak kecil dari dua dunia yang saling bertolak-belakang itu duduk rukun di depan meja sambil menikmati sarapan mereka: segelas susu dan sepiring gorengan.
Sama sekali tak ada rasa canggung dan rikuh sama sekali.
Senda-gurau dan canda tawa menggema hingga ke seluruh ruang.
Momen lainnya.
Si ibu muda yang disebut di atas sedang berdebat kecil dengan sang suami.
“Cuma lima puluh ribu kok, mas. Dia butuh uang untuk bayar uang sekolah anaknya. Aku bisa ambil dari jatah uang belanjaku kok, asal aku dapat ijin dari mas.
Gimana, mas? Pasti dibalikin kok, aku percaya ama tukang sayur langgananku itu. orangnya baik, bisa dipercaya”.
Rupanya, dia tengah meminta ijin sang suami untuk meminjamkan jatah uang belanjanya kepada seorang tukang sayur langganan yang tengah membutuhkan dana.
Sang suami yang awalnya sempat keberatan, akhirnya menyetujui permintaan istri tercintanya itu.
Suara lembut sang istri yang penuh dengan pancaran kasih serta kebaikan hati tanpa batas tanpa kaum papa telah melunakkan hatinya juga.
Dalam kesempatan berikutnya.
Anak perempuan kecil dengan rambut ekor kuda terjatuh masuk ke got kala tengah mengejar bola mainannya.
Tanpa pikir panjang dan rasa takut sedikit pun, si anak perempuan kecil ini berusaha meraih bola di dalam got dengan tangan mungilnya.
Sayangnya, dia lupa bahwa badannya yang mungil dengan tangan yang masih mungil itu tak akan bisa menggapai hingga ke permukaan got.
Benar saja, tak lama kemudian terdengar tangisan dari mulut mungil anak kecil itu.
Plung….rupanya anak kecil itu terjatuh dengan sukses ke dalam got.
Kepalanya megap-megap menahan napas sembari menghalau air got yang kotor masuk ke dalam mulutnya.
Sementara tangannya sibuk menggapai-gapai udara yang kosong.
Tangisan kencangnya membelah udara sore yang tengah meradang.
Sontak beberapa orang dewasa pun turun tangan untuk membantu sang anak.
Dari kerumunan orang banyak, tampak ibu sang anak kecil itu berlari-lari menembus kerumunan sambil menangis menghampiri putri kecilnya.
Diterjangnya kerumunan orang dan ditariknya putri kecilnya dalam pelukan.
Tangis sang anak yang tadinya begitu kencang perlahan memelan.
Dengan terengah-tengah, sang ibu membawa putri kecil dalam gendongannya ke dalam rumah.
Sambil menangis tersedu, dia memandikan putri kecilnya yang penuh dengan kotoran got itu: hitam, bau, disertai luka dan darah di beberapa tempat.
Melihat ibunya menangis tersedu-sedu, sang anak perempuan kecil ikut menangis juga.
Mereka berdua larut dalam alunan tangis yang sama.
Di kamar tidur.
Ibu muda itu tampak tengah menahan sakit yang amat sangat.
Tak henti-henti dia memegang kepalanya sambil berteriak kesakitan.
Semua orang yang berada di dekatnya panik, bingung.
Dua putri kecilnya ikut menangis melihat ibu mereka berteriak kesakitan.
Mereka sama sekali tak tahu apa yang tengah terjadi.
Karena melihat ibu mereka mengerang kesakitanlah maka mereka pun menagis kencang, seolah ikut merasakan rasa sakit yang tengah diderita sang ibu.
Ayah mereka, yang berada tepat di sebelah ibu mereka, berusaha menenangkan sang ibu sambil tak henti memegang erat tangannya.
Mulutnya sibuk melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an.
Matanya menyiratkan sorot kesedihan yang amat sangat.
Sedih karena tak bisa memindahkan sakit yang tengah dirasakan istrinya kepadanya.
Sedih karena mendengar kedua putrinya menangis tersedu-sedu menyaksikan penderitaan ibu mereka.
Di ruang tamu rumah mereka.
Kedua gadis cilik kakak-beradik itu berdiri di dekat sebuah radio besar sambil mengucapkan sesuatu.
Mereka seolah tengah bercakap-cakap dengan seseorang.
Oh, rupanya ayah mereka mengajak mereka untuk membuat sebuah rekaman suara dengan bantuan perangkat radio tersebut.
Kedua gadis cilik itu berbicara dengan riang gembira, menyapa ibu mereka.
Berceloteh macam-macam, menceritakan segala hal yang mereka lewati tatkala sang ibu tak ada di sisi mereka.
Tengah malam, di ruang ICU sebuah rumah sakit.
Tanpa mereka sadari, sang ayah memperhatikan kedua putri kecilnya yang tak tahu apa-apa itu dengan pandangan sayu dan sorot mata penuh kepedihan.
Andai kalian tahu apa yang tengah terjadi pada ibu kalian, nak.
Mungkin itu yang dilontarkan sang ayah dalam hatinya.
Setetes air mata jatuh di sudut mata sang ayah.
Cepat-cepat dihapusnya air mata itu.
Tak lama, dia pun larut dalam keriaan bersama dua putri kecilnya itu.
Ikut menyapa sang istri dengan bermacam-macam kisah dan momen yang telah dialami dua putri kecil mereka.
Tanpa sepengetahuan dua anak perempuan kecil itu, rekaman suara tersebut dimainkan sang ayah di telinga ibu mereka yang tengah tergolek koma di ruang ICU. Kelopak matanya membuka sedikit.
Dia tampak mengenali celoteh dua buah hatinya.
Anak matanya mencari-cari dari mana gerangan asal suara yang dia rindukan itu.
Adakah dua putri kecilnya berada dekat dengannya?
Jari tangannya menunjukkan sedikit respon gerakan.
Seolah ingin menggumamkan sesuatu.
Namun hal tersebut tak berlangsung lama.
Sesaat kemudian, kesadarannya kembali memudar.
Layar detak jantung menunjukkan tanda-tanda koma kembali.
Pada suatu malam.
Anak perempuan kecil berusia 4 tahun berpotongan rambut pendek tampak sedang tertidur pulas.
Di sebelahnya tampak seorang anak perempuan kecil yang sedikit lebih besar darinya.
Di tempat tidur satu lagi, tampak seorang perempuan muda tengah meringkuk dengan seorang bayi mungil.
Bayi itu juga tidur dengan pulasnya.
Tanpa ada aba-aba, si anak perempuan kecil berusia 4 tahun itu tiba-tiba menangis.
Matanya masih terpejam namun tangisannya kian menggema.
Sang perempuan muda sontak terbangun dari tidurnya.
Dia langsung menghampiri tempat tidur sang anak kecil.
Tangisan anak perempuan kecil itu kian lantang.
Terdengar gumaman-gumaman aneh dari mulutnya.
“Mama….mama…..mana mama?”
Sang perempuan muda segera menyadari apa yang terjadi.
Sepertinya keponakan kecilnya itu tengah bermimpi buruk.
Biasanya, kakak perempuannya—yang adalah ibu si anak—akan langsung memeluk anaknya dan meninabobokan kembali.
Tapi, sadar bahwa yang dicari dan dibutuhkan sang anak kecil adalah ibunya, perempuan muda itu tidak dapat berbuat banyak selain mencoba menenangkan anak kecil itu.
Agar igauannya berakhir dan dia dapat kembali melanjutkan tidurnya.
Anak perempuan yang lebih besar tampat sedikit menggeliat.
Rupanya dia terbangun mendengar igauan adiknya itu.
Namun, tanpa banyak komentar, dia hanya menoleh sebentar ke arah tubuh adiknya.
Saat dilihatnya bahwa adknya sudah mulai tenang dan kembali tidur, dia pun kembali memejamkan matanya.
Keesokan harinya.
Di rumah itu terjadi keramaian yang luar biasa.
Dua anak perempuan kecil yang tak tahu apa-apa hanya bisa menyaksikan bahwa ada begitu banyak orang hilir-mudik masuk rumah mereka.
“Wah, rumah kami tak pernah seramai ini, “ begitu yang ada dalam benak kanak-kanak mereka.
Tanpa sedikit pun peduli pada kegaduhan yang ada, mereka tetap asyik bermain.
Sesekali, teman sepermainan mereka datang untuk bermain bersama di halaman rumah mereka.
Menjelang siang, kian banyak orang yang berdatangan.
Sebuah mobil putih dengan lampu berwarna merah yang menyala di bagian atasnya tampak memasuki halaman rumah mereka.
Sebuah kotak panjang dari kayu yang telah ditutupi kain warna hijau dengan tulisan arab yang tidak mereka mengerti dikeluarkan dari dalam mobil tersebut.
Kakek-nenek mereka langsung menghambur keluar menyambut kotak tersebut.
Tak henti-hentinya mereka menangis.
Di sebuah sudut, seorang bapak tua tampak tercenung melihat keseluruhan momen itu.
Diamnya menyiratkan sebuah kepedihan mendalam.
Tanpa banyak gerak dan kata, sorot matanya seolah berkata betapa ia terluka dan terpuruk dalam kesedihan tanpa tahu bagaimana mengutarakannya.
Seorang perempuan muda menghampiri kedua anak perempuan kecil itu.
Tangannya langsung merangkul dan membelai dengan penuh cinta.
Air mata mengalir deras di pipinya.
Sang anak perempuan yang lebih besar terlihat gembira dan ceria.
Dengan polosnya dia malah menyapa perempuan itu dengan suara manja.
“Tante, tante…masa katanya mama meninggal. Tuh, orang-orang rame banget di dalam rumah. Tante juga pasti datang ke sini mau ketemu mama kan? Tapi mama kok tidur aja ya? Dipanggil ga nyahut?”.
Mendengar celoteh polos si bocah perempuan kecil ini, air mata sang perempuan muda kian meleleh.
Hatinya seolah disayat sembilu.
Miriiiiiiiis……….sekali rasanya.
Sahabatnya pergi untuk selamanya, meninggalkan dua orang putri lucu yang masih terlalu kecil dan masih butuh banyak kasih sayang seorang ibu.
Rangkulannya pun kian erat.
Seolah tak rela melepas dua keponakan kecil-nya itu.
Sore harinya.
Rumah mereka kembali seperti sedia kala.
Sepi, sunyi, hening.
Beberapa perabotan yang berpindah tempat masih tampak berantakan.
Dua anak perempuan kecil itu dengan girang menghampiri ayah mereka.
Pikir mereka, tumben jam segini papa udah di rumah. Bisa diajak main nih!
Kontan saja mereka langsung menggoda ayah mereka yang tampak termenung di sofa.
Ekspresinya terlihat letih dan pandangannya begitu sayu.
Namun tampaknya sang ayah tak ingin mengecewakan putri-putri kecilnya.
Dia meladeni ajakan main kedua buah hatinya itu meskipun dengan berat hati.
Dipaksakannya untuk tetap tertawa riang.
Meskipun kini terkuak fakta bahwa senyumnya itu palsu dan penuh kepura-puraan.
Tawanya hanya topeng yang menutupi kesedihan hatinya.
22 tahun kemudian, di sebuah siang yang terik.
Seorang perempuan muda berada di balik kemudi.
Peluh membasahi keningnya.
Jalanan Jakarta yang padat dan terik dilaluinya dengan penuh rasa khidmat.
Khidmat terhadap hidup, khidmat terhadap nikmat yang diberikan hidup kepadanya.
Potongan memori kenangan bersama mama tercintanya sesekali hadir menyertai hari-harinya.
Sosok ibu yang penuh cinta dan kasih sayang.
Penuh welas asih dan rasa iba terhadap kaum papa.
Penuh kelembutan terhadap putri dan suaminya.
Kenangan itu tak ‘kan pernah pupus dari ingatannya.
Tahun boleh berganti.
Ingatan akan sosok sang bunda boleh memudar.
Namun kenangan akan saat-saat yang pernah dia lalui bersama bunda tercinta, tak ‘kan pernah hilang.
Tak lekang oleh waktu, tak lekang oleh usia.
Ps:
Tulisan ini dedikasiku atas kenangan tentang ibuku tercinta.
Beliau pregi untuk selamanya ketika usiaku belum genap 6 tahun.
Di balik segala ketakutanku akan kehilangan sosoknya dalam benak, kilasan memori inilah yang masih tertempel kuat dalam benakku.
Semoga ibuku dapat melihatku dengan bangga dari atas sana.
Terima kasih untuk semua “nilai” sederhana tentang hidup yang sering mama berikan ke hadapanku.
There’s no greatest love than yours, mom!
Posted in Famz | No Comments »