Feed on
Posts
comments

Di suatu pagi yang cerah.
Seorang anak perempuan kecil duduk di depan meja makan.
Satu tangannya memegang sekeping biskuit, sementara tangan lainnya menggenggam gelas berisi susu.
Selang beberapa saat, tampak seorang perempuan muda dengan sorot mata lembut dan senyum mengembang datang menghampiri si anak perempuan kecil.
Perempuan itu kemudian duduk tepat di sebelah si anak perempuan kecil.
“Ayo, sayang, dihabiskan susu dan biskuitnya, “ujar sang perempuan muda yang ternyata adalah ibu si anak perempuan kecil itu.
Dengan sabar dan penuh kasih sayang dia mengelus rambut putri kecilnya.
Dia dengarkan dengan riang celoteh bawel putri kecilnya itu.

Tiba-tiba, sang ibu beranjak dari kursinya.
Rupanya, dia menuju ke pintu depan.
Entah apa yang membuatnya keluar dan melongok ke arah luar rumahnya.
Satu, dua, tiga menit, sang ibu tak jua kembali.
Sementara si anak perempuan kecil masih saja asyik meminum susunya.

Lamat-lamat terdengar suara-suara.
“Nah, itu dia….Desima ikut sarapan juga ya. Tante tadi sempet bikin gorengan sedikit. Ayo duduk di sana, tante siapin susunya dulu ya, supaya kalian bisa minum susu bareng”.
Oh, rupanya sang ibu kembali ke rumah dengan membawa seorang anak perempuan kecil lainnya.
Anak kecil lainnya ini nampak masih mengantuk, matanya masih merah, rambutnya acak-acakan.
Perbedaan mencolok antara si anak perempuan kecil yang baru masuk dengan anak perempuan kecil anak si ibu muda adalah pada pakaian yang mereka kenakan.
Pakaian Desima—si anak perempuan yang baru masuk—terlihat lusuh dan berantakan. Pakaiannya compang-camping, rambutnya lengket seperti tak pernah dikeramas, mukanya juga tampak seperti tak pernah dibasuh air.
Sementara anak kecil yang sedari tadi duduk di meja makan tampak jauh lebih bersih, lebih riang gembira dan lebih wangi.

Tak lama kemudian dua anak kecil dari dua dunia yang saling bertolak-belakang itu duduk rukun di depan meja sambil menikmati sarapan mereka: segelas susu dan sepiring gorengan.
Sama sekali tak ada rasa canggung dan rikuh sama sekali.
Senda-gurau dan canda tawa menggema hingga ke seluruh ruang.

Momen lainnya.
Si ibu muda yang disebut di atas sedang berdebat kecil dengan sang suami.
“Cuma lima puluh ribu kok, mas. Dia butuh uang untuk bayar uang sekolah anaknya. Aku bisa ambil dari jatah uang belanjaku kok, asal aku dapat ijin dari mas.
Gimana, mas? Pasti dibalikin kok, aku percaya ama tukang sayur langgananku itu. orangnya baik, bisa dipercaya”.

Rupanya, dia tengah meminta ijin sang suami untuk meminjamkan jatah uang belanjanya kepada seorang tukang sayur langganan yang tengah membutuhkan dana.
Sang suami yang awalnya sempat keberatan, akhirnya menyetujui permintaan istri tercintanya itu.
Suara lembut sang istri yang penuh dengan pancaran kasih serta kebaikan hati tanpa batas tanpa kaum papa telah melunakkan hatinya juga.

Dalam kesempatan berikutnya.
Anak perempuan kecil dengan rambut ekor kuda terjatuh masuk ke got kala tengah mengejar bola mainannya.
Tanpa pikir panjang dan rasa takut sedikit pun, si anak perempuan kecil ini berusaha meraih bola di dalam got dengan tangan mungilnya.
Sayangnya, dia lupa bahwa badannya yang mungil dengan tangan yang masih mungil itu tak akan bisa menggapai hingga ke permukaan got.
Benar saja, tak lama kemudian terdengar tangisan dari mulut mungil anak kecil itu.
Plung….rupanya anak kecil itu terjatuh dengan sukses ke dalam got.
Kepalanya megap-megap menahan napas sembari menghalau air got yang kotor masuk ke dalam mulutnya.
Sementara tangannya sibuk menggapai-gapai udara yang kosong.
Tangisan kencangnya membelah udara sore yang tengah meradang.

Sontak beberapa orang dewasa pun turun tangan untuk membantu sang anak.
Dari kerumunan orang banyak, tampak ibu sang anak kecil itu berlari-lari menembus kerumunan sambil menangis menghampiri putri kecilnya.
Diterjangnya kerumunan orang dan ditariknya putri kecilnya dalam pelukan.
Tangis sang anak yang tadinya begitu kencang perlahan memelan.
Dengan terengah-tengah, sang ibu membawa putri kecil dalam gendongannya ke dalam rumah.
Sambil menangis tersedu, dia memandikan putri kecilnya yang penuh dengan kotoran got itu: hitam, bau, disertai luka dan darah di beberapa tempat.
Melihat ibunya menangis tersedu-sedu, sang anak perempuan kecil ikut menangis juga.
Mereka berdua larut dalam alunan tangis yang sama.

Di kamar tidur.
Ibu muda itu tampak tengah menahan sakit yang amat sangat.
Tak henti-henti dia memegang kepalanya sambil berteriak kesakitan.
Semua orang yang berada di dekatnya panik, bingung.
Dua putri kecilnya ikut menangis melihat ibu mereka berteriak kesakitan.
Mereka sama sekali tak tahu apa yang tengah terjadi.
Karena melihat ibu mereka mengerang kesakitanlah maka mereka pun menagis kencang, seolah ikut merasakan rasa sakit yang tengah diderita sang ibu.
Ayah mereka, yang berada tepat di sebelah ibu mereka, berusaha menenangkan sang ibu sambil tak henti memegang erat tangannya.
Mulutnya sibuk melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an.
Matanya menyiratkan sorot kesedihan yang amat sangat.
Sedih karena tak bisa memindahkan sakit yang tengah dirasakan istrinya kepadanya.
Sedih karena mendengar kedua putrinya menangis tersedu-sedu menyaksikan penderitaan ibu mereka.

Di ruang tamu rumah mereka.
Kedua gadis cilik kakak-beradik itu berdiri di dekat sebuah radio besar sambil mengucapkan sesuatu.
Mereka seolah tengah bercakap-cakap dengan seseorang.
Oh, rupanya ayah mereka mengajak mereka untuk membuat sebuah rekaman suara dengan bantuan perangkat radio tersebut.
Kedua gadis cilik itu berbicara dengan riang gembira, menyapa ibu mereka.
Berceloteh macam-macam, menceritakan segala hal yang mereka lewati tatkala sang ibu tak ada di sisi mereka.

Tengah malam, di ruang ICU sebuah rumah sakit.
Tanpa mereka sadari, sang ayah memperhatikan kedua putri kecilnya yang tak tahu apa-apa itu dengan pandangan sayu dan sorot mata penuh kepedihan.
Andai kalian tahu apa yang tengah terjadi pada ibu kalian, nak.
Mungkin itu yang dilontarkan sang ayah dalam hatinya.
Setetes air mata jatuh di sudut mata sang ayah.
Cepat-cepat dihapusnya air mata itu.
Tak lama, dia pun larut dalam keriaan bersama dua putri kecilnya itu.
Ikut menyapa sang istri dengan bermacam-macam kisah dan momen yang telah dialami dua putri kecil mereka.

Tanpa sepengetahuan dua anak perempuan kecil itu, rekaman suara tersebut dimainkan sang ayah di telinga ibu mereka yang tengah tergolek koma di ruang ICU. Kelopak matanya membuka sedikit.
Dia tampak mengenali celoteh dua buah hatinya.
Anak matanya mencari-cari dari mana gerangan asal suara yang dia rindukan itu.
Adakah dua putri kecilnya berada dekat dengannya?
Jari tangannya menunjukkan sedikit respon gerakan.
Seolah ingin menggumamkan sesuatu.
Namun hal tersebut tak berlangsung lama.
Sesaat kemudian, kesadarannya kembali memudar.
Layar detak jantung menunjukkan tanda-tanda koma kembali.

Pada suatu malam.
Anak perempuan kecil berusia 4 tahun berpotongan rambut pendek tampak sedang tertidur pulas.
Di sebelahnya tampak seorang anak perempuan kecil yang sedikit lebih besar darinya.
Di tempat tidur satu lagi, tampak seorang perempuan muda tengah meringkuk dengan seorang bayi mungil.
Bayi itu juga tidur dengan pulasnya.

Tanpa ada aba-aba, si anak perempuan kecil berusia 4 tahun itu tiba-tiba menangis.
Matanya masih terpejam namun tangisannya kian menggema.
Sang perempuan muda sontak terbangun dari tidurnya.
Dia langsung menghampiri tempat tidur sang anak kecil.
Tangisan anak perempuan kecil itu kian lantang.
Terdengar gumaman-gumaman aneh dari mulutnya.
“Mama….mama…..mana mama?”
Sang perempuan muda segera menyadari apa yang terjadi.
Sepertinya keponakan kecilnya itu tengah bermimpi buruk.
Biasanya, kakak perempuannya—yang adalah ibu si anak—akan langsung memeluk anaknya dan meninabobokan kembali.
Tapi, sadar bahwa yang dicari dan dibutuhkan sang anak kecil adalah ibunya, perempuan muda itu tidak dapat berbuat banyak selain mencoba menenangkan anak kecil itu.
Agar igauannya berakhir dan dia dapat kembali melanjutkan tidurnya.
Anak perempuan yang lebih besar tampat sedikit menggeliat.
Rupanya dia terbangun mendengar igauan adiknya itu.
Namun, tanpa banyak komentar, dia hanya menoleh sebentar ke arah tubuh adiknya.
Saat dilihatnya bahwa adknya sudah mulai tenang dan kembali tidur, dia pun kembali memejamkan matanya.

Keesokan harinya.
Di rumah itu terjadi keramaian yang luar biasa.
Dua anak perempuan kecil yang tak tahu apa-apa hanya bisa menyaksikan bahwa ada begitu banyak orang hilir-mudik masuk rumah mereka.
“Wah, rumah kami tak pernah seramai ini, “ begitu yang ada dalam benak kanak-kanak mereka.
Tanpa sedikit pun peduli pada kegaduhan yang ada, mereka tetap asyik bermain.
Sesekali, teman sepermainan mereka datang untuk bermain bersama di halaman rumah mereka.
Menjelang siang, kian banyak orang yang berdatangan.
Sebuah mobil putih dengan lampu berwarna merah yang menyala di bagian atasnya tampak memasuki halaman rumah mereka.
Sebuah kotak panjang dari kayu yang telah ditutupi kain warna hijau dengan tulisan arab yang tidak mereka mengerti dikeluarkan dari dalam mobil tersebut.
Kakek-nenek mereka langsung menghambur keluar menyambut kotak tersebut.
Tak henti-hentinya mereka menangis.
Di sebuah sudut, seorang bapak tua tampak tercenung melihat keseluruhan momen itu.
Diamnya menyiratkan sebuah kepedihan mendalam.
Tanpa banyak gerak dan kata, sorot matanya seolah berkata betapa ia terluka dan terpuruk dalam kesedihan tanpa tahu bagaimana mengutarakannya.

Seorang perempuan muda menghampiri kedua anak perempuan kecil itu.
Tangannya langsung merangkul dan membelai dengan penuh cinta.
Air mata mengalir deras di pipinya.
Sang anak perempuan yang lebih besar terlihat gembira dan ceria.
Dengan polosnya dia malah menyapa perempuan itu dengan suara manja.
“Tante, tante…masa katanya mama meninggal. Tuh, orang-orang rame banget di dalam rumah. Tante juga pasti datang ke sini mau ketemu mama kan? Tapi mama kok tidur aja ya? Dipanggil ga nyahut?”.
Mendengar celoteh polos si bocah perempuan kecil ini, air mata sang perempuan muda kian meleleh.
Hatinya seolah disayat sembilu.
Miriiiiiiiis……….sekali rasanya.
Sahabatnya pergi untuk selamanya, meninggalkan dua orang putri lucu yang masih terlalu kecil dan masih butuh banyak kasih sayang seorang ibu.
Rangkulannya pun kian erat.
Seolah tak rela melepas dua keponakan kecil-nya itu.

Sore harinya.
Rumah mereka kembali seperti sedia kala.
Sepi, sunyi, hening.
Beberapa perabotan yang berpindah tempat masih tampak berantakan.
Dua anak perempuan kecil itu dengan girang menghampiri ayah mereka.
Pikir mereka, tumben jam segini papa udah di rumah. Bisa diajak main nih!
Kontan saja mereka langsung menggoda ayah mereka yang tampak termenung di sofa.
Ekspresinya terlihat letih dan pandangannya begitu sayu.
Namun tampaknya sang ayah tak ingin mengecewakan putri-putri kecilnya.
Dia meladeni ajakan main kedua buah hatinya itu meskipun dengan berat hati.
Dipaksakannya untuk tetap tertawa riang.
Meskipun kini terkuak fakta bahwa senyumnya itu palsu dan penuh kepura-puraan.
Tawanya hanya topeng yang menutupi kesedihan hatinya.

22 tahun kemudian, di sebuah siang yang terik.
Seorang perempuan muda berada di balik kemudi.
Peluh membasahi keningnya.
Jalanan Jakarta yang padat dan terik dilaluinya dengan penuh rasa khidmat.
Khidmat terhadap hidup, khidmat terhadap nikmat yang diberikan hidup kepadanya.
Potongan memori kenangan bersama mama tercintanya sesekali hadir menyertai hari-harinya.
Sosok ibu yang penuh cinta dan kasih sayang.
Penuh welas asih dan rasa iba terhadap kaum papa.
Penuh kelembutan terhadap putri dan suaminya.
Kenangan itu tak ‘kan pernah pupus dari ingatannya.

Tahun boleh berganti.
Ingatan akan sosok sang bunda boleh memudar.
Namun kenangan akan saat-saat yang pernah dia lalui bersama bunda tercinta, tak ‘kan pernah hilang.
Tak lekang oleh waktu, tak lekang oleh usia.

Ps:
Tulisan ini dedikasiku atas kenangan tentang ibuku tercinta.
Beliau pregi untuk selamanya ketika usiaku belum genap 6 tahun.
Di balik segala ketakutanku akan kehilangan sosoknya dalam benak, kilasan memori inilah yang masih tertempel kuat dalam benakku.
Semoga ibuku dapat melihatku dengan bangga dari atas sana.
Terima kasih untuk semua “nilai” sederhana tentang hidup yang sering mama berikan ke hadapanku.
There’s no greatest love than yours, mom!

‘Coz the music is everywhere, what you have to do just listen to it!

Ada banyak cara untuk belajar, dari buku, dari pengalaman hidup orang lain, dari kisah teladan para pemimpin dan orang sukses, dari cerita film hingga dari lirik lagu. Maka, belajar akan arti penting sebuah keluarga pun tidak mutlak dilalui dengan cara membangun keluarga sendiri. Setidaknya, itulah pesan moral yang saya dapat usai menonton film August Rush yang dibintangi oleh Freddie Highmore, Kerri Russel, Robin Williams dan Jonathan Rhys Myer.

Film ini sebenarnya bukan merupakan film baru. Bahkan, film ini telah diputar beberapa bulan yang lalu di Blitz Megaplex. Hasil membaca sinopsis film dan review dari beberapa orang teman yang telah mononton film ini, saya menarik kesimpulan bahwa ini sebuah film yang layak tonton. Namun kesibukan yang menyita waktu dan energi tidak memungkinkan saya untuk menikmati film ini di pentas bioskop. Akhirnya, mengalah pada realita maka saya pun memutuskan untuk menikmati film ini dalam format keping DVD saja. Maka ketika akhirnya saya berhasil menemukan judul film ini di rak penjualan DVD bajakan langganan saya—ups, saya akui saya memang pembeli DVD bajakan ;p⎯saya pun bersorak kegirangan!

DVD ini sempat lama teronggok begitu saja di samping tumpukan koleksi DVD dalam kamar saya. Entah kenapa, saya belum menemukan dorongan hati untuk menontonnya⎯ya, saya tipe orang yang selalu mengikuti kata hati dalam melakukan apa pun, termasuk untuk urusan menonton film! Saya selalu mendengarkan hati saya dan bagaimana perasaannya pada momen itu. Maka, hari minggu kemarin pun menjadi hari bersejarah karena akhirnya saya mendapat inspirasi untuk menyentuh DVD film itu dan memutarnya.

Sedikit contekan cerita yang tertera di balik DVD memberi sedikiiiitt….gambaran mengenai jalan cerita film ini. Film dibuka dengan seorang bocah lelaki⎯kepingan informasi lainnya akhirnya menyebutkan bahwa sang bocah ini tinggal di rumah penampungan anak telantar milik negara bagian Colorado⎯bermata biru sayu yang selalu dapat menerjemahkan beragam kegiatan, ekspresi manusia serta semesta alam dalam bentuk harmoni nada. Desau angin didengarnya sebagai lantunan nada rendah. Suara anak-anak bermain sepakbola didengarnya sebagai dentuman nada sedang. Sementara gelak tawa dan senda gurau teman sebaya serta riuh-rendah obrolan orang dewasa didengarnya sebagai lengkingan nada-nada tinggi. Itulah sajian awal terhadap karakter utama film ini, Evan Taylor yang kemudian bermetamorfosa menjadi sosok August Rush.

Kamera bergerak menjauh dari sang bocah dan kemudian menghadirkan sosok seorang wanita jelita bergaun tali spageti putih dengan rambut ikal coklatnya yang begitu mempesona saya. Sang wanita jelita ini rupanya tengah bersiap di ruang rias. Saya sempat menebak bahwa dia akan menikah. Ternyata, tebakan saya meleset! Dia akan tampil di atas panggung mempertunjukkan kebolehannya. Oh, ternyata dia seorang pemain musik! Cellist alias pemain cello. Aksi solo permainan cello-nya yang didukung oleh orkestra lengkap kian menunjukkan kepiawaian sang wanita memainkan alat musik itu. Wajah jelitanya makin terlihat cantik tatkala tengah asyik menggesek cello-nya. Sementara itu, sekilas sosok seorang pria muda yang tengah bernyanyi dalam sebuah pub underground tampil sebagai background-nya. Sang pria ini memiliki semacam karisma pada caranya bernyanyi dan mengekspresikan lirik lagu yang tengah dilantunkannya. Betul-betul bernyanyi dari hati, begitu sekilas saya menandai sosok pria ini.

Layar berganti.
Keterangan waktu menunjukkan masa 11 tahun sebelumnya. Sang wanita jelita itu kembali nampak di layar. Kali ini cerita bergulir dari konser yang tengah dilakukan oleh sang wanita. Lyla Novacek, itulah nama wanita jelita ini. Seorang pemain cello berbakat yang baru saja menyelesaikan pertunjukan pentingnya. Beruntung, respon penonton begitu antusias terhadap permainan cello-nya. Kesuksesan pertunjukan ini disikapi oleh teman-teman Lyla dengan mengajaknya keluar ke sebuah pesta salah satu kenalan mereka. Mumpung masih di Perancis, kata mereka!
Berlatar Champs De Elysees nan menawan layar pun bergeser ke sebuah flat yang tengah dipadati beberapa orang. Asyik sekali party yang mereka adakan. Di tengah keriuhan pesta tersebut, Lyla justru merasa asing dan segera menyingkir dari keramaian. Tujuannya tak lain adalah roof top alias area atap. Dari sana, dia justru mendapati pemandangan indah yang tepat menghadap gerbang Arc’ de Tromphe. Nampak di kejauhan, dalam lorong sebuah gang seorang pemusik saksofon jalanan tengah melantunkan sebuah lagu yang indah. Ternyata, bukan hanya Lyla seorang yang asyik menikmati lagu tersebut. Suara seorang pemuda mengusik kedamaiannya. Ternyata, sang pemuda asyik nongkrong di atap gedung sebelah yang posisinya jauh lebih tinggi daripada atap tempat Lyla berpijak. Sang pemuda menawarkan Lyla untuk pindah ke tempatnya agar bisa lebih seksama mendengarkan lantunan suara saksofon nan merdu itu. Antara bimbang dan ragu, Lyla kemudian melangkahkan kakinya ke gedung sebelahnya.

Adegan selanjutnya mudah ditebak!
Kedua sejoli ini saling jatuh cinta dan berakhir dengan menghabiskan malam bersama. Kedatangan sang pagi yang terlalu mendadak mengusik kebahagiaan mereka. Sang wanita bergegas pergi meninggalkan sang pria. Permintaan sang pria untuk kembali bertemu di tempat yang telah ditentukan dijawab sambil lalu oleh sang gadis.

Serba tertebak, cinta yang telah bersemi di hati kedua insan tersebut mendapat kendala besar! Ternyata Lyla hidup di bawah tekanan sang ayah yang begitu mendominasi dan mendiktenya. Dia tak bebas melakukan segala kehendak hatinya karena sang ayah seperti telah menggariskan takdir hidup Lyla hanya sebagai cellist! Ambisi berlebih sang ayah mulai membuat Lyla muak. Itulah sebabnya dia begitu terkenang akan pertemuan dengan pria ini⎯kemudian diketahui bernama Lionel, seorang vokalis band underground yang menjadi band tetap di sebuah pub local.

Janji temu kembali yang batal dilakoni akhirnya menyisakan rindu dan sesal bagi kedua insan ini. Apalagi setelah itu Lyla mendapati dirinya tengah mengandung! Tekanan dari sang ayah yang kian menekan membuatnya tak tahan dan melarikan diri. Malangnya, Lyla mengalami kecelakaan mobil yang mengakibatkan kandungannya bermasalah.
Di RS, sang ayah mencoba menenangkan Lyla dan memberitahu bahwa Lyla telah kehilangan bayinya. Lyla mendengarkan itu semua sambil menatap kosong ke angkasa. Padahal, tanpa sepengetahuannya, di sudut sana, di ruang bayi, tergolek lemah seorang bayi mungil yang tangannya menggapai-gapai kala mendengar lantunan musik dari sebuah kotak musik berbentuk komidi putar. Suara lantunan musik yang didengar sang bayi dalam momen awal hidupnya ini akhirnya akan menjadi sebuah tuntunan utama dalam hidupnya, karena ia akan bisa mendengar musik di mana pun ia berada.

Kita kemudian bisa menebak bahwa sang bayi itu adalah bocah Evan!
Di rumah penampungan, bocah Evan selalu berharap orang tuanya akan dapat menemukannya lewat “frekuensi” suara yang sama. Keteguhan hati akan musik ini mulai diperlihatkan lewat keberaniannya membantah sejumlah anak yang lebih tua darinya. Saat dia akan digencet dan dipaksa untuk mengatakan bahwa orang tuanya tak akan pernah bisa menemukannya, dengan lantang ia menjawab bahwa ia tahu mereka pasti ada di luar sana dan akan mendengarnya.

Sikap Evan yang sepintas nampak rapuh namun ternyata punya keyakinan yang kuat ini pun mempesona seorang petugas dari departemen sosial yang berkunjung ke tempat penampungan untuk mendata anak-anak yang ada di tempat itu.
Sang petugas (diperankan dengan sangat apik oleh Terence Howard) terkesima sekali dengan jawaban polos Evan ketika ditanya sudah berapa lama ia tinggal di tempat itu. Evan menjawab dengan detil; tahun, bulan dan minggunya. Jawaban yang membuat sang petugas termangu!

Kekuatan dan keyakinan dalam diri Evan yang kian membuncah memaksanya untuk “pergi” dari tempat penampungan menuju kota besar—New York.
Menumpang sebuah truk yang supirnya baik hati, Evan pun sampai di kota yang dijuluki Big Apple ini. Petualangannya pun dimulai! Malang tak dapat ditolak, satu-satunya petunjuk tentang petugas departemen sosial yang dianggap dapat menolongnya itu harus terbang tertiup angin ketika ia asyik meresapi salah satu sudut jalanan New York sebagai sebuah alunan simfoni yang megah.

Pengejarannya terhadap kartu nama itu justru membawanya berkenalan dengan seorang bocah yang meliuk-liukkan senar gitar di tengah taman kota. Sang bocah ini mengalunkan beragam jenis lagu dari gitar listrik yang dia panggul. Nada-nada yang keluar dari dawai gitar itu membuat Evan terbius. Evan akhirnya “ikut” si bocah kulit hitam ini pulang ke markasnya. Evan melihat dari dekat kehidupan anak-anak jalanan yang punya bakat dalam musik namun diperbudak menjadi mesin penghasil uang. Komandan pasukan ini adalah seorang pria aneh yang selalu berpenampilan seperti koboi⎯karena selalu memakai jaket kulit dan topi kulit model koboi berwarna hitam⎯dan diperankan dengan akting yang menawan oleh aktor kawakan Robin Williams.

Eksistensi Evan dalam markas seniman anak jalanan itu makin diakui ketika pada suatu pagi mereka semua terbangun karena mendengar nada-nada aneh dari hasil coba-coba Evan terhadap gitar listrik kesayangan sang bos. Evan yang sama sekali buta alat musik memainkan gitar tersebut dengan serampangan namun justru menghasilkan harmonisasi nada yang menggugah dan menarik perhatian. Ekspresi riang Evan kala menggebuk, memetik, memukul gitar pun begitu mempesona orang yang mendengar.

Bahwa Evan adalah seorang bocah dengan kemampuan luar biasa dalam mencipta harmonisasi nada, kita sudah bisa menebaknya sejak awal film. Namun kemampuan Evan yang sesungguhnya dalam musik dan nada lebih dari batas yang saya bayangkan. Seorang jenius alami. Orang yang tak perlu tahu banyak tentang teori namun justru mampu menemukan kunci-kunci nada harmonisasi beragam nada menjadi sebuah simfoni indah yang begitu memukau. Evan dengan mudah menerjemahkan banyak suara dari kegiatan sehari-hari yang sepintas nampak sepele dan tak penting menjadi sebuah rangkaian nada yang begitu indah.
Kemampuannya mencipta musik berbekal gitar listrik yang dimainkan sekenanya merupakan titik tolak pertama yang memberi tahu kita akan hal ini.

Pertemuan berikutnya dengan seorang bocah perempuan anak pendeta di sebuah gereja yang tengah melakukan latihan paduan suara menggiringnya ke pengalaman lainnya yang kian mengukuhkan kemampuan lebihnya dalam bidang musik. Tanpa perlu menghabiskan banyak waktu, Evan langsung dapat menguasai nada dari sebuah grand piano. Not balok yang merupakan benda baru dan asing baginya justru menjadi sahabat barunya. Dalam beberapa jam kemudian, Evan justru tenggelam dalam keasyikannya mendengarkan lantunan nada alam semesta dan menggubahnya dalam bentuk not balok. Luar biasa!

Sang bocah perempuan inilah yang mengantar dan mengubah nasib Evan dari seorang pemusik jalanan menjadi pemusik profesional. Ayah sang bocah perempuan—si pendeta—mengantarkan Evan ke sebuah sekolah musik yang telah menghasilkan New York Philharmonic Orchestra, sebuah kelompok elit orkestra yang punya reputasi bagus di seantero jagat. Di sekolah musik ini, bakat Evan tersalurkan dengan baik.
Beberapa fragmen memperlihatkan bahwa Evan belajar dalam kelas di mana dia adalah siswa dengan usia paling muda.
Kepiawaian Evan dalam mencipta harmonisasi nada “tertangkap” basah oleh seorang professor pengajar salah satu mata pelajaran.

Sang professor yang takjub akan partitur nada yang diciptakan oleh Evan akhirnya membawa hasil gubahan Evan tersebut kepada sang kepala sekolah dan meminta agar komposisi tersebut dimainkan dalam pagelaran akbar New York Philharmonic Orchestra. Respon Evan yang begitu polos dan lugu sungguh membuat dewan direksi sekolah tersebut tersenyum simpul. “I need to be watched by as many as people”. Begitu komentarnya ketika salah seorang anggota dewan menjawab bahwa pentas ini tak hanya akan ditonton oleh ratusan orang saja, ribuan orang akan menontonnya! Evan yang punya misi utama agar “suaranya” dapat didengar oleh orang tuanya pun tersenyum cerah mendengar jawaban tersebut.

Sementara itu, di lain tempat, sang wanita jelita yang 11 tahun lalu diprediksi akan memiliki karier cemerlang sebagai pemain musik dunia justru berakhir hanya menjadi seorang guru les privat cello. Kehilangan bayi dalam kandungannya membuat hidup Lyla seolah berhenti dan bergerak ke arah sebaliknya. Semangatnya hilang dan hidupnya seolah kelam. Hubungannya dengan sang ayah pun merenggang. Dia menganggap bahwa tak ada lagi yang perlu dikejar dalam hidupnya dan dia hanya perlu menjalani hari demi hari secukupnya, tanpa ambisi dan keinginan serta semangat apa pun.

Di London, layar menampilkan seorang eksekutif muda pria dengan dandanan perlente yang masuk ke mobil Mercedes Benz. Pria ini ternyata adalah Lionel, sang vokalis band yang dulu matanya begitu bercahaya dan penuh dengan gairah hidup. Ternyata, waktu telah mengubah Lionel menjadi seseorang yang mengejar kesuksesan materi semata dan mengesampingkan kepuasan batin. Lionel menjalani hidup seperti ini dan mengakhiri kariernya sebagai vokalis karena ingin membuktikan bahwa dia bisa menjadi seseorang yang sukses secara finansial!
Namun, jauh di relung hatinya, hidupnya terasa begitu hambar dan sunyi. Semangatnya meredup dan gairahnya akan hidup yang dulu begitu meletup-letup seolah sirna ditelan waktu.

Yang terjadi selanjutnya adalah perjuangan ketiga orang insan manusia ini untuk saling menemukan satu sama lain.
Evan yang begitu merindukan kehangatan orang tua, belaian kasih seorang ibu dan rasa aman yang diberikan seorang ayah.
Lyla yang begitu merindukan bayinya dan selalu tercenung tiap kali melihat anak kecil yang dianggapnya seumuran dengan bayinya jika masih hidup, serta Lionel yang menemukan kenyataan bahwa sejauh apa pun kita berusaha lari dan mengubur masa lalu serta melupakan siapa diri kita sesungguhnya, kenyataan itu pasti akan kembali menghentak dan memaksa kita untuk kembali membuka lembaran itu.
Keputusan untuk tetap menjalani hidup yang sekarang atau justru membenahi kehidupan masa lalu mutlak ada di tangan kita.
Beruntung, Lionel cukup bijak mengambil keputusan. Gitar listriknya akhirnya keluar dari kandang dan menyertai perjalanannya untuk kembali mencari cintanya yang telanjur hilang, Lyla.

Keajaiban demi keajaiban terjadi dalam kisah saling menemukan mereka bertiga. Tanpa disadari Lyla, dia akan bermain dalam pentas di mana bayi yang begitu ia rindukan akan menjadi komposer orkestranya. Sementara Lionel tanpa sadar juga pernah bertemu dengan Evan tatkala Evan tengah berdiri termangu di tengah kebimbangan akan memilih untuk tetap hidup bersama si pemimpin seniman anak jalanan atau kabur dan menunaikan tugasnya bertindak sebagai konduktor pagelaran orkestra yang simfoninya telah ia buat.

Lantunan nada simfoni yang digubah Evan pun mengusik Lyla yang telah beringsut menjauhi panggung. Lyla berusaha mendekat ke bibir panggung, mendengarkan dengan seksama harmonisasi nada yang begitu menyentuh nuraninya. Lionel yang baru selesai pentas lagi pun langsung meloncat turun dari taksi ketika membaca flyer pagelaran orkestra di mana tertera nama Lyla Novacek sebagai cellist.
Kekuatan musik buah hati mereka menuntun mereka untuk saling menemukan.
Dan ketika Evan memejamkan mata dan membalikkan badan ke arah penonton, dia tahu bahwa “suara”nya telah didengar!

Maka, keyakinan kuat Evan yang telah bermetamorfosa cemerlang menjadi August Rush, sang jenius musik, pun berbuah manis.
Ayah dan ibu yang begitu dirindukan kembali bersatu!

Film ini berakhir dengan manis tanpa perlu memberikan detil tentang bagaimana akhir kisah mereka bertiga, apakah mereka akhirnya akan hidup sebagai sebuah keluarga bahagia yang saling menyayangi atau tidak. Imajinasi itu sengaja disimpan sang sutradara dengan membebaskan penonton membuat sendiri versi yang mereka suka dalam kepala masing-masing.

Dari cerita tersebut, saya merasa mendapat banyak kekuatan dan pencerahan, di antaranya adalah tentang keyakinan untuk bersatu dengan keluarga dan keyakinan untuk selalu mengikuti kata hati serta tidak berusaha mengingkari hal yang kita pikir selalu membuat

Efek Endorfin

Lama tak melakukan aktivitas fisik yang signifikan menyebabkan beberapa persendian saya terasa pegal linu.
Well yeah, saya memang masih punya momen untuk berjalan kaki dari kantor ke warung makan langganan untuk membeli makan siang.
Atau kadang, di akhir pekan saya juga masih mencoba untuk keluar dari ketergantungan terhadap enaknya naik kendaraan pribadi dan memilih bepergian dengan angkot yang artinya harus menyiapkan stamina mengejar angkot dan berdiri sepanjang perjalanan jika angkot yang saya naiki sedang penuh-penuhnya.

Tapi ternyata faktor U alias usia yang makin senja membuat kebutuhan sendi, tulang dan otot untuk bergerak dan berolah tubuh makin tinggi.
Saya sadar sepenuhnya bahwa saya tak lagi menyempatkan diri untuk melakukan olah tubuh rutin. Dulu, saya sempat aktif di sebuah pusat kebugaran bersama seorang teman namun entah mengapa semangat berolah tubuh itu surut perlahan seiring dengan kegiatan lain yang lebih menarik untuk dilakukan⎯kongkow bersama teman lama sambil ketawa-ketiwi dan berbagi kisah hidup masing-masing, berburu sale di beberapa pusat perbelanjaan bersama adik tercinta, melakukan perawatan tubuh dan wajah di salon kecantikan dan klinik wajah, menikmati festival musik jazz tahunan, maraton nonton film kesukaan di salah satu bioskop favorit, mengajar adik-adik SD tiap sabtu, menghadiri resepsi pernikahan teman dan banyak lagi kebutuhan interaksi sosial lainnya ;)
Beberapa minggu terakhir, “kebutuhan” untuk kembali melakukan peregangan otot dan olah tubuh itu menyala kembali akibat kondisi tubuh yang mulai terasa drop dan beberapa bagian tubuh yang makin terasa remuk redam.
Momen hari libur panjang 4 hari berturut-turut membuat saya kembali semangat mengatur jadwal untuk berolah tubuh.
Olah tubuh pilihan saya adalah yang paling ringan, mudah dilakukan dan tentunya menyenangkan karena ada kesempatan untuk lebur jadi satu dalam kerumunan khalayak banyak.
Ya, lari pagi alias jogging lah yang jadi incaran awal saya!
Tak tanggung-tanggung, saya tak mau sekedar lari pagi biasa.
Saya memilih venue tempat yang menurut saya akan makin menggugah semangat saya untuk berolahraga, ada iming-iming lain selain berolah raga yakni aneka ragam makanan enak dan kesempatan mengamati orang yang lalu lalang tentunya. Maka dari itu, lari pagi keliling kompleks perumahan tempat saya tinggal pun sama sekali tidak menarik minat saya.
Saya lebih tertarik lari pagi ke Senayan atau Monas!

Saya tak peduli komentar ayah yang keheranan melihat saya bangun pagi-pagi⎯setelah malamnya pulang tengah malam!⎯dan berpamitan sambil berkata akan olah raga pagi di Monas. Saya juga tak peduli akan kantuk yang masih menggelayut di pelupuk mata karena jam tidur yang amat sangat kurang. Saya bahkan tak peduli harus lari terbirit-birit menyeduh air panas, kopi dan sedikit gula ke dalam tumbler air panas sebagai bekal agar mata saya bisa melek seutuhnya. Yang terpenting adalah saya harus sampai di Monas, di depan patung diponegoro jam 7 pagi sebagai konsekuensi janji temu dengan seorang tean yang akan menjadi personal trainee lari pagi pertama saya setelah sekian lama tidak menggerakkan badan.

Reaksi antara kuah cuka pempek, pempek mentah⎯hasil paksaan mamanya Ani yang menyodorkan sepiring pempek berisi 3 buah pempek dengan dalih pengisi perut sebelum berolahraga pagi⎯serta kopi racikan sendiri ternyata dahsyat membuat perut saya bergemuruh dan memompa semangat saya.

Saya tiba agak telat dari janji temu yang seharusnya. Tampang teman lama saya itu agak ditekuk ketika akhirnya saya pura-pura menyapanya sebagai turis Jepang di depan mobil toilet umum warna kuning oranye di halaman parkir silang Monas. “Gw uda kepanasan nungguin lo di sana, Nov”, sembur teman lama saya ini. Akibat lama menunggu, rupanya teman saya itu justru tergoda “kebutuhan” alaminya sebagai akibat perubahan meeting point di depan mobil toilet umum.

Setelah melakukan sedikit pemanasan dan peregangan ringan, putaran pertama lari pagi pertama saya di Monas pun dimulai.
Huf.. huf… huf… lepas nafas… tarik nafas… hirup udara…
Sinkronisasi antara nafas dan gerak langkah kaki saya masih tak beraturan.
Aha, rupanya hal inilah yang dimaksud oleh mas Idho di telfon beberapa hari sebelumnya. 2 hari sebelum hari H, terjadi percakapan lama di telfon mengenai rencana lari pagi tersebut. Di percakapan itu, bahasan tentang teknis lari pagi sempat merajai obrolan. Tips dan trik ringan dari mas Idho yang lebih mumpuni dalam bidang jogging di Monas seolah menjadi bekal berharga bagi saya.
Tak heran jika saya pun merasa lebih siap secara teknis ketika akan berlari, hehehehe…….

Putaran pertama, peluh langsung membasahi tubuh.
Pesan mas Idho yang terngiang di kepala saya, “jangan sampe lo berhenti lari, kalopun lo ngerasa cape, ubah kecepatan gerak kaki lo menjadi lebih lambat aja. Boleh jalan, asal kaki lo tetap melangkah, engga berhenti total”, ujarnya.
Saya dan Ani yang kali pertama berlari pagi benar-benar mematuhi petuah si abang yang lebih profesional di bidang perlaripagian itu.
Mas Idho yang tadinya masih berlari dengan kecepatan yang sama sejajar dengan saya dan Ani kemudian mulai menunjukkan ritme larinya yang sebenarnya. Dalam sekejap, dia melesat jauh di depan kami.

Walhasil tinggallah kami, dua perempuan yang begitu menikmati waktu berlari kami sambil mengobrol dan mengomentari aktivitas manusia yang berputar di sekitar kami; anak kecil yang bermain sepeda, layangan mungil yang ditarik oleh dua orang kakak beradik, ibu muda yang mendorong kereta bayinya, seorang ayah yang antusias menggendong anak perempuan kecilnya di bahu sambil bersenda gurau, kuda yang lalu lalang dihentak oleh saisnya, sekelompok remaja yang bermain Frisbee, rombongan keluarga yang menggelar aksi sarapan pagi di rerumputan hijau taman.

Waktu seolah berhenti dan semua berdengung menjadi semburat warna-warni indah pelangi di sekeliling saya.
Entah hentakan hormon endorfin yang mulai menyerang atau saya yang memang mulai menikmati olahraga pagi itu, semua terasa bagai dalam gerak super lambat, berkelebat samar-samar di hadapan saya.
Jakarta terasa begitu indah sekali pagi itu.
Pencakar langit di sekitar Medan Merdeka yang menjulang tingi seolah menyatu dengan sang Monas di ujung langit biru sana.

Usai menyelesaikan lari 2 putaran dan jalan kaki 1 putaran⎯not bad at all for beginner, ha?!⎯kami kembali berkumpul dan menuju sebuah tempat untuk melakukan penurunan suhu dan pelurusan kaki. Aktivitas mengamati manusia kembali berlanjut di sana. Kebetulan sekali, kami adalah 3 orang yang menikmati momen-momen macam itu. Ada saja hal yang menjadi pemicu obrolan seru kami.

Berhubung selain ingin membetulkan ritme tubuh dengan olahraga yang rutin, misi lain yang saya usung adalah ingin menambah berat badan, maka jangan heran setelah usai meluruskan kaki saya dan kedua teman justru beringsut menuju area parkir yang menyatu dengan pusat jajan segala jenis makanan dan aneka dagangan lainnya.

Mata saya langsung menyala kegirangan melihat sederet panjang warung makan yang berhias spanduk menu aneka jenis makanan yang mengundang selera. Pilihan selera perut saya pagi itu jatuh pada seporsi ketupat sayur padang. Sementara Ani memesan roti bakar⎯yang rasanya so so saja menurut Ani⎯mas Idho lebih tergiur dengan aroma indomie goreng bertabur bawang goreng lengkap dengan telur mata sapinya.
Puas mengisi perut dan mengomentari segala aktivitas manusia yang terjadi di depan mata kami, kami pun memutuskan untuk beranjak pergi dari tempat itu.

Tapi ternyata euforia hormon endorfin menyerang dalam jumlah yang berlebih hingga saya dan Ani kompak berteriak kegirangan kala menemukan beberapa penjual kerak telor. Tak pelak, kami semangat menggebu memesan kerak telor sambil sesekali menjepret gaya si bapak penjual dengan kamera handphone⎯mungkin dalam hati si bapak penjual ini berkomentar kalau kami seperti dua perempuan norak yang jarang melihat pembuatan kerak telor ;D

Puas urusan perut dan mata, kami memutuskan untuk benar-benar hengkang dari lokasi Monas. Karbohidrat yang mengisi lambung rupanya mulai bereaksi. Kantuk mulai menyergap padahal saya masih harus menempuh perjalanan pulang.

Sampai di rumah, tempat tidur yang menjadi tujuan utama saya harus sedikit ditunda dahulu karena ternyata ayah minta diantar ke sebuah tempat makan untuk membeli lauk pauk sarapan yang tengah diidamnya.
Apa lacur, saya tak kuasa menolak permintaan ayah tersebut.
Dengan kostum baju tidur yang sudah telanjur melekat di badan, saya pun mengantar ayah.
Pulang mengantar⎯tebak, ternyata ayah saya tak hanya mampir ke satu tempat saja namun ke beberapa tempat sekaligus! “sekalian keluar rumah”, ujarnya⎯saya langsung cerah menemukan tempat tidur saya.
Blek….badan saya rebahkan tanpa ada pikiran lain yang tertinggal di dalam kepala.

Siangnya saya terbangun karena urusan perut kembali mendera.
Usai makan, saya memutuskan untuk menikmati hari sambil menonton sebuah film. Asal sambar, tangan saya terantuk pada sebuah keping DVD lawas, August Rush sukses mengocok perasaan hati saya selama dua jam ke depan.
Setelah itu, kembali perut meronta dan minta diisi.
Agak takjub juga dengan kenyataan itu karena biasanya saya cukup rewel dalam urusan makan.
Bubur kacang hijau menjadi santapan sore saya kali itu.
Kenyang diisi, kantuk kembali meraja.
Saya kembali memutuskan untuk tidur saja.

Hoahemmm…..
Nikmat sekali tidur saya…
Beberapa kali saya seolah berada dalam momen antara terjaga dan tidak.
Sayup-sayup sempat terdengar suara adik saya yang tengah mengobrol dengan ayah. Entah apa yang mereka perbincangkan.
Ah…saya tak peduli…kantuk ini begitu mengental. Yang saya mau hanya memejamkan mata!
Beberapa cerita silih berganti menghampiri. Sepertinya saya bermimpi.
Mimpi adalah hal yang sudah amat jarang saya dapati dalam waktu tidur saya belakangan ini.
Rasanya mimpi-mimpi itu mengantar tidur saya ke dalam masa yang begitu damai, tenang dan memabukkan.

Keesokan paginya, saya tersadar bahwa saya telah terlelap sejak sore hari tanpa sempat bangun lagi hingga keesokan harinya.
Segar sekali rasanya badan ini…entang sekali!
Semangat pun menggebu meski ini awal minggu yang panjang.
Mungkinkah ini efek endorfin akibat dari olah tubuh yang telah saya lakukan kemarin itu?

Hm….Monas menyisakan segudang cerita yang begitu rindu untuk saya raih kembali!
Salah satunya, efek endorfin yang membuat 2 hari terakhirku ini kian semangat; semangat makan, semangat membuat tulisan dan semangat tidur.
Haha!

Istilah ini saya temukan dari hasil obrol-obrol seusai lari pagi di Monas dengan beberapa teman minggu pagi kemarin. Kalimat itu terlontar ketika saya mengeluarkan topik yang berkaitan antara film Perempuan Punya Cerita dengan aktivitas jelajah menyusuri daerah Pecinan yang pernah saya lakukan di akhir Februari lalu.
Saya berkisah pada 2 teman yang menemani saya rehat di sebuah warung makan itu bahwa setelah menonton kembali film Perempuan Punya Cerita dan mengikuti acara Cap Go Meh di mana rutenya menelusuri berbagai kelenteng yang tersebar di daerah Petak 9, Glodok, saya jadi bisa menandai lokasi kelenteng yang dipakai sebagai lokasi syuting adegan Cerita dari Jakarta scene ketika Susan Bachtiar berdoa dan keluar dari altar pemujaan kemudian mendapati gadis mungilnya tengah diajari melepaskan burung merpati dari dalam kantong kertas oleh seorang bocah di halaman depan kelenteng.
Ah…itu kan kelenteng yang begitu memukau saya karena letaknya yang berdempetan dengan rumah penduduk dan terletak di dalam sebuah gang kecil namun begitu Anda melewati pintu gerbangnya maka Anda akan menemukan sebuah tempat yang akan membuat Anda terperanjat karena “kejutan” suasana yang ditawarkan di bagian dalam pagar tersebut.

Kebenaran kata-kata sakti tersebut kembali terngiang ketika dua teman saya pun membagi pengalaman “banyak tahu” mereka. Dalam hati, bahkan saya pun mengamini pernyataan itu.
Adik perempuan saya bahkan pernah berujar bahwa saya adalah orang yang gemar memberi komentar akan segala hal! Saya lantas menyadari sepenuhnya bahwa komentar yang sering tanpa sadar saya lontarkan semata karena rasa ingin tahu saya justru terusik akan kenyataan yang tidak hadir seperti yang saya harapkan terjadi.

Saya kerap mengomentari barisan panjang orang yang mengerumuni hal yang saya pikir bukan sesuatu yang penting dan bukan sebuah tontonan massal. Saya selalu berkomentar pedas kala menyaksikan dengan mata kepala sendiri sebuah mobil mewah menurunkan jendela kacanya dan melempar sampah seenaknya ke jalanan. Saya sering merutuki para supir metro mini, angkot, kopaja serta bis-bis lainnya karena kerap berhenti seenak hatinya tanpa sedikit pun pernah mencoba memanfaatkan lampu sein sebagai alat untuk memberi informasi bahwa mereka akan menepi sejenak. Saya juga selalu mengelus dada mengomentari para pengguna jalan yang menggila dan menerabas area jalan khusus busway dengan alasan supaya terhindar dari macet namun apa yang mereka lakukan justru membuka celah terjadinya lalu lintas yang kian semrawut karena seenaknya berpindah jalur bila jalur khusus busway itu pun tersendat.

Lalu, bagaimana caranya agar tidak perlu banyak komentar? Haruskah saya menjadi orang yang tidak terlalu banyak tahu? Supaya saya tak punya cukup pengetahuan untuk dapat kembali melontarkan komentar-komentar nyeleneh yang kadang menampar orang lain itu?

Ah, sepertinya saya sudah telanjur menjadi si sok tahu yang selalu mengeluarkan komentar seolah saya yang paling tahu dan paling benar. *hehe, untuk yang satu ini, saya tak perlu mengingat komentar Mas Ridho waktu saya mulai sok berhipotesa tentang mengapa warung di pujasera Monas menjual lem alteco =D

Saya tidak butuh justifikasi, pembenaran benar atau salah, yang saya inginkan hanyalah agar keingintahuan saya terjawab dengan gamblang tanpa banyak berputar-putar dan lugas.
Dengan begitu, mungkin suatu hari nanti saya akan bisa menjadi si banyak tahu yang tidak sok tahu lagi dan memberi sedikit komentar karena tahu bahwa banyak komentar pun tak akan membuat banyak perubahan. Daripada sibuk banyak-banyak berkomentar, bukankah lebih baik jika kita langsung beraksi?

Pengetahuan kadang memang menyesatkan.
Mengimbangi pengetahuan dengan aneka macam jenis pengetahuan lainnya, mencoba melihat dari banyak sisi serta mencoba untuk belajar pada kehidupan⎯instead of learning from book only, u’d better learn from the people around u and their life also!
Dengan begitu, pengetahuanmu pasti akan semakin lengkap dan seimbang.
Dan komentar-komentar yang biasa keluar dari dirimu sedikit demi sedikit akan bergeser menjadi gagasan positif yang dapat dipakai untuk merubah keadaan.

Siapa tahu….

Kalender kembali berganti……
Hari yang baru menjelang.
Fajar tahun baru pun mulai menyingsing.

Tahun sebelumnya menyisakan begitu banyak “pekerjaan rumah” yang tidak tuntas untukku!
Begitu banyak daftar resolusi yang kutulis di awal tahun kemarin namun tidak terwujud dengan mulus.
Ada penyesalan karena ternyata aku gagal mewujudkan resolusi-resolusiku.
Namun di lain pihak aku mencoba melihat perjalanan hidupku di tahun kemarin dengan lebih bijak.

Banyak air mata yang menetes…
Kepergian sahabat tercinta untuk selamanya merupakan salah satu kehilangan terbesar yang kurasakan di tahun 2007.
Pertengkaran hebat dalam sejarah hidupku dengan ayah tercinta juga sempat mewarnai hari-hari 2007-ku.
Kandasnya hubungan dengan sang kekasih pun sempat membuat hatiku remuk redam.

Namun seperti halnya kisah-kisah lain dalam hidup di mana tak selamanya hujan mewarnai harimu, maka kisahku di 2007 juga sempat diwarnai dengan beragam semburat warna-warni pelangi……

Pertemuan-pertemuan serta perkenalan dengan banyak orang baru memberi begitu banyak pencerahan bagiku.
Roda kehidupan membawaku kembali mendekat dengan teman-teman lama yang dulu terasa begitu asing bagiku.
Beberapa momen justru menjadikan aku dan teman-teman lama kian akrab dan saling mengenal lebih dalam.
Tak ayal, romansa nostalgia masa lalu yang mengikat hubungan kami pun kini kian merajut indah.

Kututup kenangan tahun 2007 dengan semburat senyuman dan sejumput asa.
Jika dahulu di awal tahun 2007 aku mencatat beberapa daftar resolusi yang ingin kucapai di tahun itu, maka kini aku tak lagi ingin membuat catatan-catatan macam itu.
Biarlah hidupku di tahun 2008 ini bergulir apa adanya, tanpa ada target yang harus kucapai.

Target terbesarku adalah menikmati hidup sehidup-hidupnya!
Dan belajar dari hidup, semua itu bisa diraih kapan saja kau mau asal kau bisa menikmati apa yang disajikan hidup kepadamu.
Nikmati setiap saat dalam hidup seolah kau akan mati esok, syukuri segala hal yang kau punya seolah kau tak pernah memiliki apapun.
See the world from different perspective, therefore u can know what the real happiness are!

Semoga tahun 2008 memberiku banyak pencerahan batin dan perjalanan-perjalanan baru menuju sosok-sosok yang dapat memberi inspirasi besar bagi hidupku…

Catatan:
Biasanya, aku menulis catatan seperti ini di awal tahun, di hari2 pertama tahun yg baru. Namun thn 2008 ini aku ingin mengubah kebiasaan ini. Aku menulis ketika aku merasa ada yang ingin aku bagi dan aku tak mau dikendalikan oleh waktu….
Waktu memang selalu berjalan terus tanpa henti, tapi tetap ada masa ketika engkaulah yang menjadi "tuan" dari sang waktu.

Terima kasih tak terhingga kepada teman-teman yang telah memberi banyak warna dalam hidupku di thn 2007.
-mba Geb yang meski tak lagi bisa bersama namun akan selalu berada dalam kenanganku dan tak ‘kan terganti…
-mba Ika yang telah menemani melalui saat-saat penuh kepedihan setelah kepergian mba Geb…
-my lil sista yang tanpa sadar selalu memberi support di kala aku sedang gulana.
-kirul dengan segala ocehannya yang tanpa henti dan komentar-komentar ajaibnya namun begitu penuh dedikasi menjadi seorang sahabat yang selalu ada saat dibutuhkan…
-teman2 yang menghabiskan pergantian detik tahun baru bersama: Meila dan Iing yang begitu hangat dan ceria, Yunda dan Aswin yang siap sedia diculik tiba-tiba dan gila bareng di karaoke, Sisi dan Rara yang banyak diam namun ikut memberi warna serta Bobby yang sempet g pede nyanyi tapi belakangan ketahuan kalo jadi penggemar lagunya Ungu; it’s been so nice hanging with all of u…

Foto2 momen yang kulewati bersama tmn2 saat pergantian tahun baru kemarin:
http://www.slide.com/r/MH02uZGipD8Emn54CdwmhD2kpaXOc_Nd?previous_view=mscd_embedded_url&view=original

Perfect Noon at Ragusa

Sebagai seorang pecinta sejarah dan segala sesuatu yang berkaitan erat dengan masa lalu, secara tak sadar saya juga menjadi pecinta kuliner serta tempat-tempat kuliner yang memiliki “cerita sejarah” tersendiri di belakangnya.

Lahir dan tinggal di Jakarta selama beberapa belas tahun nyatanya tak menjadikan saya fasih akan kota ini.
Eksplorasi saya akan Jakarta justru baru memasuki tahap awal yakni tahap mengetahui, untuk kemudian mencari tahu lebih dalam lagi dan melakukan observasi langsung demi mendapat keakuratan data serta pengalaman ruang yang lebih riil.

Salah satu tempat kuliner yang menjadi rasa penasaran saya sekian lama ini adalah sebuah tempat makan es krim yang ditengarai sudah berdiri sejak awal masa kolonial Belanda dulu.
Wah, terbayang kan bagaimana “tua”nya rasa es krim tersebut!

Lama sekali saya memendam rasa penasaran untuk dapat berkunjung ke tempat ini—selain tak tahu letak persisnya di mana, saya belum menemukan momen tepat untuk sekedar mengajak teman berkunjung ke sana.
Firasat saya berkata bahwa untuk datang pertama kali ke tempat itu, saya haruslah bersama dengan orang yang memiliki ketertarikan tinggi akan kuliner, sejarah serta tempat-tempat bersejarah macam itu.
Akan jadi ajang yang “terlalu biasa” saja jika saya pergi dengan orang yang sekedar menganggap berkunjung ke sana bagaikan “mampir” ke warung es krim biasa.

Maka, ketika suatu hari seorang teman lama mengajak bertemu untuk obrol santai sambil mengudap, saya merasa “this is the moment!”.
Inilah saat yang tepat untuk memuaskan rasa ingin tahu saya akan tempat itu.
Saya tahu pasti “selera” teman saya ini—hehe…let say we have many things in common including our passion to the vintage heritage.
Gayung pun bersambut mesra, teman saya itu menyetujui usul saya karena dia juga belum pernah ke tempat ini.

Rencana pun disusun dengan rapi.
Tadinya saya sempat berencana untuk menyetir sendiri kendaraan pribadi sambil mencari-cari letak es krim itu berdasarkan deskripsi yang diberikan seorang teman yang sudah sering ke tempat itu.
Namun ternyata teman jalan saya kali ini lebih bersemangat untuk memanfaatkan sarana transportasi umum sembari mengamati aspek social yang bertebaran di sekitar perjalanan—city tour, itu istilah yang dia sematkan untuk perjalanan model seperti itu. Tergelitik juga saya dengan ide itu, pasti akan menyenangkan sekali jalan-jalan kami nantinya!
Akhirnya, kesepakatan city tour dengan busway pun terjalin.

Sabtu pagi yang biasanya menjadi “hari bangun siang” berubah menjadi “hari bangun pagi”.
Pintu masuk Citraland jam 9 pagi menjadi tempat rendeszvouz pertama kami.
Dari sana, kami menyongsong rintik-rintik hujan menuju pemberhentian angkutan umum pertama, yakni halte busway.
Baru kali itu saya memasuki halte busway jurusan Kali Deres-Senen di samping Citraland.
Beragam komentar kami lontarkan sembari menikmati momen jalan kaki menuju halte.
Mulai dari jalur penyebrangan menuju halte busway yang terlalu panjang-lah, antrian di dalam halte yang semrawut, hingga kebersihan dalam halte yang amat jauh dari kesan layak.
Fuuuiihhh……yang namanya mantan jebolan mahasiswa sekolah arsitektur memang seperti kami ini, bawel!
Dan kebetulan lagi, kami berdua memang termasuk tipikal orang yang suka sekali mengamati kehidupan manusia……segala macam hal pasti kami komentari!

Setelah melalui perjalanan yang tak terlalu jauh, akhirnya kami tiba di pemberhentian, halte busway Juanda.
Dari situ, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Berdasarkan deskripsi teman saya yang sering ke tempat es krim ini, letak kedai es krim ini berada di jalan yang ada rel kereta api dari arah Juanda, tepat di sebrang mesjid Istiqlal dan menghadap kali.
Hm……tak terlalu jauh rupanya jarak yang kami tempuh menuju ke sana.

Memasuki area jalan Veteran 1, saya merasakan sebuah sensasi tersendiri yang cukup dahsyat!
Saya merasa seolah melihat jalanan ini di masa lampaunya.
Area jalan ini membuat waktu seolah berhenti.
Bangunan hanya berada di posisi kanan jalan.
Tepat di sebrang jalan itu, sungai Ciliwung mengalir tenang. Sederet bangunan di jalan ini masih mempertahankan tampilan fasade aslinya dengan gaya bangunan Kolonial-nya yang sedikit dipengaruhi langgam Eropa.

Kedai Es Krim Ragusa sendiri terletak di tengah deretan bangunan-bangunan tua itu.
Tampilannya bersahaja, sama sekali jauh dari kesan menyolok. Plang nama “Ragusa-Es Itali” masih memakai font yang entah kenapa bagi saya memancarkan romansa masa lalu begitu kuat.
Melangkah masuk ke dalam kedai, suasana hangat dan nyaman sontak terasa.

Interior kedai ini amat sederhana, tak banyak detil serta pernik yang terekam mata.
Langit-langit tinggi dengan bukaan di dekat langit-langit serta bentuk dan model jendela yang simetri bujursangkar dengan teralis vertikal, warna-warna krem serta putih hitam mendominasi dinding, beberapa detil elemen seperti finishing dinding yang dibuat secara manual dengan cara memutar-mutar semen di satu spot menjadi “motif” yang cukup menarik perhatian.
Sederet bangku dari rotan berukuran rendah terlihat menghiasi ruang.
Rupanya bangku rotan ini turut andil menciptakan kesan homey yang saya rasakan di awal masuk ke sini.
Duduk di bangku itu rasanya begitu nikmat! Nyamaaaaan…sekali hingga kau tak ‘kan ingin beranjak dari situ.

Ketika memasuki kedai ini, kami disambut oleh seorang pelayan yang usianya sudah cukup uzur.
Saya langsung teringat sosok kakek saya di Medan.
Mungkin bapak ini pun usianya tak jauh beda dengan kakek saya itu.
Si bapak ini lantas menyodori kami kertas menu.
Menu es krim yang ditawarkan cukup beragam.
Nama yang dipakainya pun cukup menarik meskipun terdengar kuno. Tutti Frutti, Banana Split, Sundae with Almond adalah nama-nama es krim yang sempat terbaca oleh mata.
Mengikuti saran teman saya yang lebih berpengalaman dengan es krim Ragusa, saya pun memesan Spaghetti Es krim.
Sementara teman saya tanpa pikir panjang langsung memesan Banana Split.
“Yang paling gampang dan pasti enak”, begitu komentar teman saya.

Es krim pesanan kami pun keluar.
Wadah elips warna putih keramik menjadi pilihan wadah yang dipakai untuk jenis es krim pesanan kami.
Semula, kami mengira wadah tersebut terbuat dari keramik. Ternyata, wadah tersebut sudah dimodifikasi dan terbuat dari plastik.
Tampilan es krim pesanan kami cukup memikat.
Ada taburan kacang almond yang disangrai dengan lelehan coklat di atasnya serta kismis jeli warna-warni yang membuat tampilan makin meriah!
Es krim spaghetti pesanan saya ternyata merupakan es krim berwarna putih yang dibuat dengan alat pembuat getuk lindri yang bentuknya panjang-panjang seperti mie.
Rupanya, itulah asal muasal nama “spaghetti” disematkan, karena tampilannya memang mirip si mie spaghetti itu.

Kami berdua makan es krim itu dengan rasa takjub yang begitu mendalam.
Rasanya seperti, “akhirnyaaaaa………!”.
Cita rasa es krim ini yang membuatnya melegenda adalah kebijakan untuk tidak menggunakan pengawet dan sedikit menggunakan susu. Rasa manis yang terasa di lidah benar-benar rasa gula. Karena kandungan susunya sedikit dan tanpa pengawet tambahan, es krim ini jadi cepat sekali mencair.
Lelehan cairannya pun langsung berubah menjadi air putih yang bening.

Es krim habis, padahal kami makin betah berada di sana.
Bahkan, topik obrolan yang menjadi agenda pertemuan hari itu pun belum dibahas sama sekali!
Menuruti panggilan perut yang mulai menggeliat kelaparan, kami setuju untuk menunggu hingga ada pedagang makanan kaki lima yang menggelar dagangan mereka di depan kedai es krim ini.
Ya, menurut penuturan si bapak pelayan, menjelang tengah hari akan ada beberapa penjual makanan kaki lima yang mangkal di depan kedai.
Pengunjung biasanya memesan makanan tersebut sebagai teman menyantap es krim.

Si bapak itu tak berhenti bercerita sampai situ saja.
Dia juga berkisah mengenai asal muasal sejarah kedai es krim ini yang dibangun oleh seorang berkebangsaan Itali yang menikah dengan wanita Indonesia keturunan Tionghoa.
Dahulu es krim ini memiliki café yang menjadi ajang kumpul-kumpulnya sosialite Belanda waktu itu.
Letaknya pun bukan di tempat yang sekarang ini.
Dari hasil bercerita, kami bahkan tahu kalau si bapak tersebut sudah bekerja di kedai es krim itu sejak tahun 60. Wuih……terbayang kan sudah berapa tahun dia mengabdi di tempat itu!
Oleh bapak baik hati inilah kami diperkenankan melakukan survey kecil-kecilan hingga ke bagian dapur.
Kami diperkenankan masuk dan melihat cara kerja mesin pembuat es krim yang dipakai sejak pertama kali kedai ini berdiri, yakni tahun 1932.

Tak terasa, perut semakin lapar.
Cemilan peyek kacang hijau yang saya ambil mulai tak mampu menahan serangan lapar.
Beruntung, abang rujak juhi dan sate mulai memasuki trotoar kedai.
Sambil menikmati pesanan sate, kami lanjut bercerita tentang kehidupan masing-masing.
Perdebatan kecil sempat mewarnai obrolan namun tak menghentikan langkah untuk terus berbagi kisah hidup.

Setelah perut terganjal, kisah hidup sudah saling dibagi, keingintahuan akan Ragusa yang legendaris ‘tlah terpuaskan, kami pun memutuskan untuk beranjak pergi dari tempat itu.
Berat rasanya meninggalkan tempat itu setelah setengah hari saya habiskan dengan nyaman sambil bertukar cerita dengan teman lama. Waktu memang sering kali mengecoh kita, meskipun di tempat yang kau kira tak terjamah oleh waktu!

City tour by foot dilanjutkan dengan tujuan berikutnya: Passer Baroe sambil “melintas” di depan Mesjid Istiqlal dan Gereja Katedral—sembari nostalgia kenangan setahun lalu ketika saya melakukan “jalan-jalan ala arkeolog” dengan beberapa teman……hmm……

Sesiangan yang menyenangkan di Ragusa……
Kelak siang itu pasti akan membangkitkan nostalgi tersendiri dalam ruang memori saya.
Just another perfect noon!

catatan:
Setting waktu perjalanan ini sebenarnya terjadi pada akhir bulan Desember 2007 namun entah kenapa "pengalaman ruang" ini mengendap sekian lama di dalam kepala saya hingga akhirnya "menetas" menjadi tulisan ini di hari pertama tahun baru 2008. Praktis, inilah tulisan pertama saya di tahun 2008.
Oya, sebagai bahan berbagi, ada beberapa foto yang dapat memperjelas deskripsi saya ini, silakan klik di sini:
http://www.slide.com/r/0G32P65EyD_Yce2OXMsuzt2EAsN0g9HU?previous_view=mscd_embedded_url&view=original

Menghela nafas……
Sayup terdengar lantunan musik itu.
Menyeretku ke dalam suatu masa yang hampir kulupa.

Di kejauhan, lamat-lamat kudengar suara itu.
Suara bisikan penuh kasih yang terasa begitu tulus hingga menyesakkan dada.
Membisikkan kata-kata pengantar tidur yang begitu manis.
Hingga tanpa terasa, jatuh ku tertidur…..

Ungkapan sayang penuh ketulusan itu kini kembali terngiang.
Membawa kembali sejumput rasa itu.

Akh……
Masa itu….
Masa-ku dapat tidur dalam belai lembut suara-nya.
Masa di mana buncahan kasihku pun begitu menggelegar.

present time
Kembali ku diisap ke masa kini.
Di mana yang tersisa hanyalah lantunan musik itu.
Yang sempat membawa asaku terbang.
Ke masa penuh cinta.
Dia yang kucinta dan mencintaku.

Kembali menghela nafas………
Masih ada tenggat yang harus dikejar.
Romansa itu masih sempat menyergapku kembali.
Membuka sejuta tanya dalam hati,
Kenapa gerangan dia kembali hadir tanpa kuundang?
Dan kenapa rasanya begitu rindu dengan segala rasa itu?
Begitu murni, tulus dan apa adanya.

Rindu yang begitu mendalam……
Padanya kah?
Pada kenangan itukah?
Atau pada diriku yang dulu mencintanya dan dirinya yang dulu mencintaku?

Biarlah rindu ini menghampiriku untuk sesaat.
Kunikmati dulu hingga sakitnya menyesak di dada.
Hingga perihnya membuatku ingin melupanya.
Lamat-lamat, kembali terdengar suara itu….
Bisikan penuh kasih yang mengantarku hingga tertidur pulas……

Zzzzzz………

Pernah merasa bertemu seseorang yang baru pertama kali kau temui namun seolah kau sudah pernah mengenalnya atau mungkin pengalaman merasakan kejadian yang sama di suatu masa yang entah kapan tepatnya pun tak dapat kau ingat?

De Ja Vu…
Begitulah orang kerap menyebut momen-momen seperti itu.
Tahukah bahwa hidup itu sendiri merupakan serangkaian De Ja Vu tanpa henti yang terus bergulir tanpa ada yang tahu ke mana arah dan tujuannya.
Di berbagai momen, pasti kita akan berhenti dan merasakan banyak De Ja Vu dengan entah siapa dan entah di mana.

Samakah De Ja Vu dengan chemistry?
Ataukah sebenarnya, De Ja Vu secara sains merupakan bentuk lain dari kesamaan level energi seseorang ketika berada dalam satu momen yang sama dalam hidupnya?
Terjemahan akan tingkat energi yang sama ini kemudian dijewantahkan dalam bentuk rasa nyaman, rasa hangat dan rasa akrab yang menjalar seketika ke permukaan tanpa permisi meskipun sebenarnya kau sama sekali belum mengenal orang yang ada di hadapanmu.
Bahkan, kau baru pertama kali bertemu dengan orang tersebut dan sering kali, kesan pertama yang kau tangkap tentang sosok ini justru tak mengenakkan.
[kau tahu lah, perasaan tak nyaman, sebal bahkan agak malas untuk berinteraksi dengan seseorang karena kau pikir orang ini mengeluarkan sinyal-sinyal bagaikan orang yang malas diajak berkomunikasi atau terlihat tidak tertarik dengan percakapan yang kau tawarkan].

Well, yeah…aku sedang berpikir, apakah unsur pembentuk De Ja Vu memang sama dengan chemistry?
Bukankah chemistry merupakan letupan energi yang terjadi ketika ada dua orang atau lebih berada dalam satu momen yang sama kemudian mengeluarkan energi yang sama dan harmonisasi energi tersebut dapat dirasakan secara jelas oleh semua pihak yang ada dalam momen yang sama tersebut?
Sama halnya seperti petir di langit yang terjadi akibat timbulnya gesekan akibat kesenjangan kondisi tekanan udara di langit dan bumi.
Untuk menyeimbangkan kondisi tak stabil tersebut, energi di langit dan di bumi bertemu di tengah dan menciptakan sebuah cipratan energi statis, kemudian terciptalah kilatan cahaya yang kita kenal sebagai petir.

Mengamini pernyataan bahwa hidup merupakan rentetan De Ja Vu tiada akhir, saat ini aku justru tengah mengorek-ngorek kembali ingatanku akan “De Ja Vu” dalam hidupku.
Adakah ku pernah merasakan De Ja Vu?
Atau, pernahkah aku bertemu seseorang yang kala pertama kali kutemui langsung terasa chemistry yang mendalam?

Hm…..
Kilasan beragam peristiwa berlompatan keluar dari ruang memori.
Satu demi satu kusimak dengan seksama putaran film hidupku.
Yang paling kuresapi justru peristiwa yang sekarang tengah kualami.
Perasaan nyaman dan kehangatan dengan seorang yang masih asing.
Sukar menjelaskan dengan kata karena hingga sekarang pun ku tak mengerti.

Biasanya kehangatan yang kurasa selalu berasal dari orang-orang yang telah lama kukenal, yang telah menjadi bagian hidupku selama beberapa waktu lamanya.
Sebagai orang yang percaya dan menghayati sesuatu berdasarkan proses, begitu pula gambaran hubungan sosialku dengan banyak orang.
Berproses dan kepercayaan serta kenyamanan tumbuh seiring dengan kontinuitas waktu yang sedang berjalan, di mana hasil akhirnya bisa beragam—entah akhirnya kami justru jadi makin dekat dan menjadi sahabat atau justru kami begitu saja dibelenggu oleh kesibukan masing-masing hingga memutus kontak secara tak sadar.

Belakangan, pertemuan-pertemuan dengan banyak orang baru membuat kumpulan chemistry dan De Ja Vu-ku makin bertambah saja.
Pertemuan baru membawa De Ja Vu dan chemistry baru memang benar adanya!
Dengan beberapa di antara mereka, kutemukan lagi chemistry-chemistry baru yang kian menyatukan—entah kami dihubungkan lewat alasan mengenal orang yang sama, tinggal di wilayah yang sama, kesamaan minat dan kesukaan kami akan diskusi mengenai topik yang dirasakan oleh kelompok orang dengan usia yang sama, hingga mungkin karena alasan yang entah bagaimana tak dapat dijelaskan, hanya merasa nyaman mengobrol dan berbagi!
Satu hal yang pasti, nyaman sekali rasanya dikelilingi oleh gelembung-gelembung chemistry yang sama.

Tapi ada satu hal baru yang kuketahui secara stimultan bahwa ternyata gelembung chemistry itu tak selamanya “besar” dan “penuh” sehingga dapat terus membuatmu nyaman.
Ada kalanya, chemistry bergerak naik secara konstan untuk kemudian tiba-tiba jatuh terpuruk di titik terendah.
Namun bisa juga justru bergerak naik-turun tanpa ada variabel yang tetap dan tak jelas kapan akan berakhir.
Yang sedang kualami mungkin chemistry paling aneh dalam hidupku, dengan pergerakan yang tak tentu arahnya dan tak jelas kapan berhentinya.
Makin lama, kenyamanan yang sempat tercipta justru makin tak terasa lagi namun tiba-tiba kenyamanan itu muncul kembali tanpa pemberitahuan hingga rasanya ingin kuenyahkan dia dari hidupku karena lelah sekali menghadapi chemistry aneh ini—tapi setelah kupikir, kalau itu kulakukan artinya aku mau menyangkal sejarah dan apa yang pernah kurasakan.
Munafik benar!

Seorang teman sempat berkata bahwa justru itulah indahnya hidup.
Unpredictable!
Kau tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa kini dan masa depan.
Bisa saja, prediksimu meleset jauh atau mungkin saja justru tepat seratus persen.
No one knows!
Yang jelas, jangan sampai kau mengembalikan ‘papan permainan’mu sebelum permainan berakhir karena g ada yang tahu kapan permainan akan berakhir, begitu nasihat temanku itu.

Memikirkan makna kata-katanya sempat membuatku pusing karena tak mengerti.
Namun akhirnya kuputuskan, daripada sibuk dan repot mendefinisikan chemistry yang satu ini, bukankah lebih baik aku justru meresapi chemistry-chemistry serta De Ja Vu lainnya?
Toh, setelah kuresapi lagi hidupku belakangan ini, ada banyak De Ja Vu serta chemistry dengan beragam orang baru yang menarik untuk dieksplorasi lebih dalam.
Just like I said, life is a circle full of chemistry and De Ja Vu, indeed!
So, just enjoy your moment and you’ll know the best chemistry and De Ja Vu in your life.
Just, feel it……open your eyes dan your heart…..listen carefully!

5 orang sahabat dari masa lalu berkumpul.
Sebuah mimpi serta buncahan kerinduan membuat mereka bersama-sama berkumpul kembali.
Mengunjungi sahabat lama yang tengah berisitirahat.

Dan perjalanan itu pun dimulai.
Satu persatu sahabat tiba di tempat pertemuan.
Maka, berangkatlah mereka menuju tempat pertemuan selanjutnya.

UKI-Cawang dipilih menjadi tempat pertemuan berikutnya.
Salah satu sahabat telah menetap di sekitar sana setelah menikah.
Ketika akhirnya dia muncul,
Lengkap sudah peserta perjalanan ini.
Dan perjalanan pun dimulai…..

Cerita manis nostalgia masa lalu mengalun merdu bagai melodi.
Beragam kisah yang sempat tersimpan kini terseruak kembali ke permukaan.
Gelak tawa serta canda gurau mewarnai perjalanan.
Hingga tak terasa meski harus menempuh beratus kilometer.
Meski sesat sempat pula menghampiri.
Walau kemudian menjadi bumbu menarik dari perjalanan tersebut.

2.5 jam mengendara,
Tiba jua akhirnya di tempat tujuan.
Di mana seorang sahabat telah menanti dengan sabar.

Terdiam dalam senyap.
Memandang sahabat yang kini telah tenang di sana.
Berusaha menahan isak,

Ada begitu banyak kata yang ingin terucap namun tak sanggup keluar.
Ada begitu besar kerinduan yang menggantung namun tak kunjung terpuaskan.

Tak ada lagi artinya rasa rindu dan rasa kehilangan ini.
Bila dibandingkan dengan segala kisah yang pernah kita rajut bersama.
Hari-hari penuh cerita, serenyah suara gelak tawanya yang selalu membahana dan senyum manisnya yang selalu tersungging di bibir.

Meski kini engkau telah lelap dalam tidur panjangmu, ingatlah selalu akan kenangan kita bersama, wahai sahabat!

Karena kami, tak akan pernah melupakanmu, selamanya…..
Jiwamu, akan selalu berada di tengah-tengah kami meski raga tak lagi bisa bertutur.

dedicated to my beloved best-friend: Gebina Primashanti, whose always have her-own-private-corner in my heart, forever.
I’ll never forget u, mbGeb!
Even when I wrote this, I still can remember your voices and your smile….
Dreadfully miss u, dear……!!!!

Renungan Ulang Tahun

November 13rd 2007
Another birthday to pass through…..
Another great moment to flashback my life again…

Sudah beberapa kali hari ulang tahun selalu kulewati dengan khidmat layaknya acara sakral yang harus diresapi benar-benar maknanya.
Tahun kemarin, aku begitu bersyukur karena mendapat hadiah ulang tahun yang begitu indah dari Allah, yakni pasangan hidup yang bagai dipertemukan kembali setelah sekian lama waktu berlalu.
Kulewati momen menjelang ulang tahun sampai lewat tengah malam dengan mengucap syukur yang amat dalam kepada Sang Khalik.
Tahun ini, momen tengah malam menjelang ulang tahun tak kulewati dengan cara yang sama.
Sebaliknya, aku justru kian tak sabar menghitung mundur hari menjelang keberangkatanku ke tanah Maluku.

Pesan singkat di telfon genggam dari beberapa sahabat dan hadai taulan menyisakan sesungging senyum dan kelegaan yang amat dalam dalam sanubari.
Ternyata, di tengah rasa sepi dan sendiri yang kian kental kurasakan, masih ada begitu banyak cinta di sekelilingku.
Aku harusnya bersyukur karena hidupku masih dikelilingi oleh begitu banyak orang yang peduli padaku.

Dari sekian banyak pesan singkat ucapan selamat ulang tahun, pesan dari papalah yang paling membuatku terharu.
Tahun lalu aku begitu sedih karena papa lupa dengan hari ulang tahunku.
Tahun ini, papa bahkan memberi sebingkai doa yang begitu membuatku terharu.
Di sela doa tersebut, sebentuk angka yang terselip dalam pesan singkat membuatku kian terhenyak.
I’m no longer 25…I’m 26 now…gosh!

Umur 25 sudah terlanjur kucintai.
Menanggalkan usia tersebut, rasanya berat sekali!
Bukan semata karena angka 26 bukanlah bilangan kuadrat tapi lebih karena usia 26 yang lebih tepat disebut sebagai usia menjelang tiga puluh—tak bisa lagi disebut berumur 20-an.
Dalam istilah di bahasa inggris, usia-usia menjelang 30-an ini kerap disebut dengan istilah late 20’s.
Hhh…..ternyata, menjadi tua itu memang sudah jadi garis hidup ya!
Ga ada orang yang akan bisa menangkis dan menghalanginya.

Tahun ini, caraku merayakan ulang tahun cukup berbeda.
3 hari setelah hari ulang tahunku, aku pergi ke tanah Maluku selama seminggu penuh dan menikmati hari-hari penuh canda tawa disertai semilir angin dan bau laut yang segar.
Nikmat sekali rasanya berlibur ke tempat di mana waktu seakan berhenti dan segala bentuk kecanggihan teknologi tidak menembus dimensi ruang tersebut.
Benar-benar waktu yang menyenangkan!

Banyak hal yang kudapat; kegembiraan karena berada di tempat baru yang begitu memukau dan begitu jauh berbeda dari kota tempatku hidup, pengalaman-pengalaman seru dan menegangkan menikmati pemandangan bawah laut, mendaki gunung dengan tebing terjal serta perjumpaan-perjumpaan dengan begitu banyak sosok hebat dalam perjalanan tersebut nyatanya telah menginspirasiku dan memberi semangat baru dalam hidupku.

Tahun ini, aku begitu bersyukur atas segala yang diberikan Sang kuasa kepadaku.
Meski aku harus kehilangan sosok sahabat baikku untuk selamanya, namun aku belajar untuk bangkit mengatasi kerinduan akan gelak tawa serta canda gurau dengan sahabat tercinta.
Meski aku harus kehilangan sosok yang kusangka dapat menjadi pasangan hidupku, namun aku pun kembali belajar untuk membasuh luka hatiku dan mencoba untuk kembali tegak berdiri dengan langkah terseok.
Dan meski aku belum juga berhasil menyatukan keping damai dalam keluargaku, namun aku semakin belajar untuk menghargai segenap kasih yang melingkupi keluargaku dan menjaga mereka sebaik-baiknya.
Dan untuk semua itu, aku tetap bersyukur.

Segala bentuk perasaan yang diberikan-Nya untukku kali ini niscaya akan membuat langkahku semakin kuat menapaki hidup dan masa depan.
Masa depan memang tak pasti, namun satu hal yang pasti, terus menjalani hidup sebaik mungkin adalah sebuah kemutlakan!

Older Posts »